TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DAN JANGAN LUPA LIKE FUN PAGE FACEBOOK KAMI

Rabu, 05 Oktober 2016

Mau Sukses di Network-Marketing? Jangan Jadi Anggota NATO!!



Ada kemungkinan besar, salah satu penyebab utama kegagalan di bisnis network-marketing adalah distributor yang NATO. Yang saya maksud dengan NATO bukanlah North Atlantic Treaty Organisation (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). NATO yang saya maksud adalah No Action, Talk Only. Bahasa gaulnya, OmDo, atau Omong Doank.

Banyak orang yang bergabung dengan bisnis network-marketing mengharapkan hasil yang muluk-muluk. Banyak yang berpikiran bahwa untuk sukses di network-marketing, seorang distributor hanya perlu mencari sebanyak-banyaknya downline ataupun orang-orang yang akan menjual produk untuk mereka. Bahkan, seringkali banyak yang berpikiran bahwa upline-nya akan membangun organisasi network-marketing untuk mereka.

Tidak jarang juga, seorang distributor gagal mencapai sukses di network-marketing karena alasan yang klasik, yaitu MALAS. Distributor yang malas mengharapkan bisa mendapatkan hasil yang berlimpah dan kebebasan finansial, tetapi tidak bersedia untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Sudah berapa sering Anda mendengar dari seorang yang mencoba merekrut Anda tentang iming-iming yang serba indah dan mudah untuk sukses di bisnis network-marketing? Jika Anda memprospek distributor dengan iming-iming yang tidak realistis seperti “Kami akan membangun organisasi untuk Anda”, “Anda bisa mendapatkan Rp.20 juta per bulan tanpa perlu bekerja mati-matian”, dan sebagainya, maka Anda akan mendapatkan distributor-distributor yang malas dalam organisasi network-marketing Anda.

Semakin sering Anda mempromosikan bisnis network-marketing Anda dengan janji-janji surga yang tidak realistis, maka semakin banyak juga Anda akan mendapatkan distributor-distributor malas yang ingin mendapatkan hasil besar tanpa harus bekerja keras.

Jika hal di atas berlanjut terus, ujung-ujungnya adalah Anda akan mengalami kegagalan dalam bisnis network-marketing yang Anda jalankan.

Ingatlah, untuk sukses di network-marketing, dibutuhkan banyak pengorbanan. Jika Anda tidak bersedia berkorban (atau melakukan investasi yang dibutuhkan), bagaimana Anda bisa berharap untuk sukses di bisnis network-marketing ini?
Penjelasan tentang “Distributor yang terlalu cepat “Say Good Bye”” segera menyusul dalam artikel berikut.

Mau Sukses di Network-Marketing? Jangan Nafsu Besar, Usaha Kurang!!



Banyak sekali distributor network-marketing yang tidak menjalankan bisnisnya dengan serius. Mungkin penyebabnya adalah “barrier of entry” yang relatif rendah. Orang dapat dengan mudah menjadi distributor sebuah perusahaan network-marketing hanya dengan membayar biaya registrasi yang relatif murah, antara Rp.50 ribu s/d Rp.250 ribu.
Biaya bergabung yang relatif murah mengakibatkan banyak distributor tidak menganggap network-marketing sebagai bisnis yang serius. Bahkan, tseringkali seorang distributor tidak menganggap network-marketing itu sebagai sebuah bisnis. Mungkin saja network-marketing dianggap sebagai sebuah hobi yang bisa membuat dia menjadi kaya tanpa bekerja keras.
Segera sadari bahwa network-marketing adalah sebuah bisnis yang serius. Banyak proses pembelajaran dan investasi yang harus dilakukan supaya dapat membuahkan hasil yang menggembirakan.
Jika Anda ingin sukses di network-marketing, Anda harus mempelajari ilmu-ilmunya. Seorang dokter harus menginvestasikan banyak waktu dan biaya untuk sekolah agar bisa membuka praktek, kemudian harus sekolah dan belajar lagi supaya bisa menjadi dokter spesialis.
Di network-marketing, Anda juga harus banyak belajar supaya bisa sukses. Bedanya adalah, ilmu untuk mencapai kesuksesan di network-marketing diperoleh dari banyak membaca, mengikuti pelatihan & training, dan mempraktekkan ilmu-ilmu yang dipelajari secara konsisten. Dengan melakukan hal-hal tersebut, Anda secara konsisten dan perlahan-lahan akan menjadi seorang network-marketer yang sukses.
Jadi, kalau Anda harus membayar Rp.50 ribu untuk mengikuti sebuah seminar/training supaya bisa sukses di network-marketing, jangan ragu-ragu untuk segera membayar dan mendaftarkan diri Anda. Jangan malas untuk membaca artikel-artikel (seperti artikel-artikel di Networker-Indonesia.com).
Jika Anda tidak mau menginvestasikan Rp.50 ribu untuk mengikuti training ataupun membeli buku, ataupun meluangkan 15 menit dari waktu Anda untuk membaca artikel-artikel yang berhubungan dengan network-marketing, bagaimana Anda bisa mengharapkan untuk sukses?
Penjelasan tentang “Distributor yang Kutu Loncat” segera menyusul dalam artikel berikut.

Kegagalan di Network-Marketing : Salah Siapa???



“90% dari pelaku bisnis network-marketing (MLM) mengalami kegagalan.” Saya yakin Anda telah berkali-kali mendengar pernyataan tersebut dilontarkan oleh orang-orang di sekitar Anda, baik dari orang yang menjalankan bisnis network-marketing, maupun yang tidak menjalankannya. Jika 90% orang yang menjalankan bisnis network-marketing mengalami kegagalan, penyebabnya apa? Salah siapa?
Ada beberapa penyebab utama mengapa 90% dari pelaku bisnis network-marketing mengalami kegagalan. Kadang-kadang kesalahan memang dapat dilimpahkan kepada perusahaan network-marketing yang tidak beritikad baik. Akan tetapi, tidak jarang juga, kesalahan berada di pihak distributor yang mengalami tersebut.
Di bawah ini saya cantumkan beberapa faktor utama penyebab kegagalan di bisnis network-marketing :
Satu : Distributor yang “Nafsu Besar, Usaha Kurang”,
Dua : Distributor yang Kutu Loncat,
Tiga : Distributor yang menjadi Gudang Penimbunan Produk,
Empat : Distributor yang anggota NATO,
Lima : Distributor yang terlalu cepat “Say Good Bye”.
Mungkin Anda sedikit bingung dengan faktor-faktor penyebab kegagalan di network-marketing yang saya sebutkan di atas. Penjelasan atas ke-lima faktor utama yang menyebabkan kegagalan di bisnis network-marketing akan saya uraikan dalam artikel-artikel tersendiri.
Sesudah membaca artikel-artikel tersebut, renungkanlah dan pelajarilah apakah kegagalan di bisnis network-marketing secara mutlak merupakan kesalahan perusahaan network-marketing? Mungkinkah si distributor sendiri adalah penyebab utama kegagalannya di bisnis network-marketing?

Senin, 05 September 2016

Membangun Organisasi Network-Marketing Dengan Teknik ABC



Jika Anda baru bergabung dengan sebuah bisnis network-marketing, Anda akan diminta untuk menuliskan sebuah daftar berisi nama orang-orang yang dikenal baik teman, saudara, keluarga, kolega, teman kantor, dan sebagainya. Kemudian, Anda diminta untuk menghubungi orang-orang tersebut untuk menceritakan kesempatan bisnis yang Anda tawarkan. Metode tersebut adalah metode yang telah dipraktekkan selama lebih dari setengah abad. Walaupun metode tersebut cukup sederhana, tetap saja hanya segelintir orang yang berhasil melakukannya dengan sukses.
Kalau begitu, bagaimana caranya untuk meningkatkan tingkat keberhasilan dalam merekrut di bisnis network-marketing?
Supaya tingkat keberhasilan merekrut dapat meningkat, Anda harus menyadari bahwa kegiatan merekrut adalah sebuah proses yang terdiri dari beberapa bagian :
Satu, Anda menawarkan sebuah kesempatan bisnis, sebuah kesempatan untuk menjadi boss.
Dua, Anda menawarkan kesempatan untuk bergabung dengan sebuah perusahaan network-marketing.
Kedua tahap di atas harus Anda lewati dengan benar sebelum Anda dapat mengajak prospek Anda untuk bergabung dalam bisnis network-marketing yang Anda jalankan.
Berapa persen dari orang-orang yang Anda kenal ingin menjadi boss dan memiliki usaha sendiri?
Saya yakin, jika memungkinkan, lebih dari 85% dari orang-orang yang Anda kenal bercita-cita menjadi boss dan memiliki usaha sendiri. Artinya, jika kendala-kendala yang ada dapat diatasi, 85% dari orang-orang yang Anda kenal akan memilih untuk menjadi boss dan menjalankan bisnis sendiri daripada bekerja untuk orang lain.
Kalau begitu, mengapa tidak semua dari 85% orang yang Anda kenal tersebut menjalankan bisnis mereka sendiri? Biasanya dikarenakan oleh adanya beberapa kendala, antara lain :
Satu : Dibutuhkan modal yang besar untuk memulai sebuah bisnis.
Dua : Dibutuhkan waktu yang banyak untuk mengelola sebuah bisnis.
Tiga : Resiko untuk memulai sebuah bisnis sangat tinggi.
Empat : Tidak tahu cara untuk memulai dan menjalankan sebuah bisnis.
Dengan Teknik ABC, Anda dapat secara bertahap menawarkan bisnis network-marketing kepada prospek Anda. Dengan Teknik ABC, ke-empat kendala yang menghambat seseorang untuk menjalankan bisnis sendiri dapat ditiadakan sehingga potensi Anda untuk merekrut juga meningkat secara signifikan.
Tahap-tahap yang terkandung dalam Teknik ABC adalah sebagai berikut :
Satu, Tahap A : Hapuskan kendala-kendala yang ada.
Dua, Tahap B : Hapuskan keraguan-keraguan yang timbul.
Tiga, Tahap C : Pelajari dengan serius dan mengambil keputusan untuk bergabung atau tidak.

Tahap A : Hapuskan kendala-kendala yang ada.
Skenario : Anda dan teman sedang berbicara santai sambil minum kopi. Kemudian Anda mencoba melihat apakah teman Anda merupakan prospek yang baik untuk bisnis network-marketing. Berikut ini kira-kira adalah diskusi yang berlangsung :
Anda : Saya merasa sudah waktunya untuk saya memulai bisnis kecil-kecilan. Anda pernah berpikir untuk melakukan hal yang sama?
Teman Anda : Tentu saja. Saya sudah berkali-kali memikirkan untuk mulai menjalankan bisnis kecil-kecilan.
Anda : Mengapa tidak direalisasikan?
Teman Anda : Sulit untuk direalisasikan. Terlalu banyak kendala…. Perlu modal besar, perlu komitmen waktu yang sangat banyak, resikonya besar di tengah krisis moneter. Lagipula, saya kan seorang insinyur. Saya tidak memiliki latar belakang bisnis.
Anda : Wah, Anda salah besar. Bagaimana kalau saya tunjukkan sebuah bisnis yang bisa dimulai dengan modal kecil, bisa dijalankan secara part-time, memiliki resiko yang sangat minim. Selain itu, Anda juga akan diberikan training dan pelatihan secara gratis. Anda berminat?
Teman Anda : Kalau begitu, saya tentu berminat.
Anda baru saja mempraktekkan Tahap A dari Teknik ABC. Pada tahap ini Anda memaparkan potensi yang ditawarkan oleh bisnis network-marketing, tanpa menyebutkan kata-kata network-marketing maupun MLM.
Tahap B : Hapuskan keraguan-keraguan yang ada.
Pada tahap ini, Anda mulai menyebut istilah “network”, “jaringan” ataupun “multi-level”. Biasanya pada tahap ini, Anda akan mengetahui apakah seorang prospek itu antusias terhadap bisnis network-marketing atau tidak.
Ada beberapa tipe prospek pada Tahap B Teknik ABC. Tipe-tipe meraka adalah :
Tipe Skeptis, yaitu orang-orang yang berpikiran bahwa network-marketing itu adalah penipuan sejenis penggandaan uang, money game dan sebagainya.
Tipe Netral, yaitu orang-orang yang pernah secara sepintas mendengar tentang beberapa perusahaan network-marketing yang besar, akan tetapi tidak pernah secara serius mempelajari bisnis ini.
Tipe Potensial, yaitu orang-orang yang berminat untuk memempelajari lebih lanjut mengenai bisnis network-marketing.
Di Tahap B, Anda bertujuan untuk menghapuskan keraguan-keraguan pada benak prospek Anda dengan memberikan informasi yang tepat dan benar tentang bisnis network-marketing. Informasi-informasi tersebut mungkin berupa artikel-artikel yang ditulis oleh beberapa selebriti maupun tokoh masyarakat. Tujuan dari Tahap B adalah untuk mempresentasikan bisnis network-marketing secara umum sebagai bisnis yang legal, dan berpotensi tinge dengan resiko rendah, dan bukan untuk mempromosikan bisnis atau perusahaan network-marketing yang Anda jalankan.
Jika Anda bertemu dengan Tipe Skeptis ataupun Tipe Netral, kemungkinan Anda untuk berhasil melewati Tahap B dengan sukses cukup terbatas. Hal ini dikarenakan Tipe Skeptis telah memiliki cara pandang tentang industri network-marketing yang sulit di hapus. Sedangkan untuk Tipe Netral, kemungkinan mereka tidak tertarik dikarenakan oleh alasan-alasan lain.
Jika Anda bertemu dengan Tipe Potensial, Anda dapat melewatkan Tahap B dan langsung memasuki Tahap C.
Tahap C : Pelajari dengan serius dan mengambil keputusan untuk bergabung atau tidak.
Pada Tahap C Teknik ABC, Anda memberikan materi presentasi mengenai perusahaan network-marketing yang Anda jalankan. Selain itu, Anda juga perlu menjelaskan mengenai beberapa produk utama dan business-plan dari perusahaan network-marketing yang Anda jalankan. Setelah itu, barulah Anda mengajak prospek Anda untuk mengambil keputusan untuk bergabung.
Kunci utama dari keberhasilan merekrut dan mengembangkan organisasi network-marketing bukanlah dari meyakinkan prospek mengenai potensi bisnis network-marketing, tetapi dari mengajak prospek-prospek untuk melihat dan mempelajari bisnis network-marketing. Biasanya setelah seorang prospek secara serius melihat dan mempelajari bisnis network-marketing, ia akan tergerak untuk mencoba untuk menjalankannya.
Teknik ABC yang diterapkan secara baik akan meningkatkan rasio orang-orang untuk melihat dan mempelajari bisnis network-marketing secara serius. Semakin banyak orang-orang yang berhasil Anda ajak untuk mempelajari bisnis network-marketing, semakin tinggi juga keberhasilan proses rekruting dalam mengembangkan organisasi bisnis network-marketing Anda.

Vidio milagros












Sabtu, 13 Agustus 2016

Hukum Berpikir Positif



Beberapa waktu yang lalu, saya menerima email yang dikirimkan oleh salah seorang teman pebisnis network-marketing. Email tersebut berisi sebuah artikel yang menurut saya sangat bermanfaat untuk meningkatkan sikap mental dalam menjalankan bisnis network-marketing. Artikel tersebut telah banyak beredar sebagai email yang dikirimkan secara berantai. Sayangnya, saya tidak mengetahui siapa penulis artikel tersebut. Jika ada yang mengetahui sumber ataupun nama penulis artikel tersebut, silahkan menghubungi saya supaya penghargaan yang sepantasnya dapat diberikan kepada penulis artikel yang sangat bermutu ini. Semoga artikel di bawah ini bermanfaat bagi teman-teman sekalian.
Hukum Pygmalion - Hukum Berpikir Positif
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
  • Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
  • Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
  • Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion,yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain.
Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif,kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai
Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.